Strategi Pemasaran Film via TikTok: Mengapa Viral di Medsos Lebih Penting dari Iklan TV?
claudiopenna – Coba ingat kembali kapan terakhir kali Anda memutuskan pergi ke bioskop. Apakah keputusan itu muncul karena Anda melihat iklan 30 detik yang menyela acara berita di televisi? Atau, apakah Anda membeli tiket karena melihat video pendek berdurasi 15 detik di ponsel? Mungkin video itu menampilkan seseorang yang menangis tersedu-sedu setelah keluar dari pintu teater dengan iringan lagu latar yang catchy. Jika jawaban Anda adalah yang kedua, selamat datang di era baru sinema.
Dulu, raksasa studio memonopoli marketing film sebagai permainan uang besar. Rumusnya sederhana: mereka menyewa papan reklame raksasa di jalan protokol, membeli slot iklan prime time di TV nasional, dan membayar kritikus koran untuk menulis ulasan manis. Namun, algoritma kini telah membakar habis peta permainan itu. Hari ini, sebuah film dengan anggaran promosi miliaran rupiah bisa hancur lebur di box office jika gagal memenangkan hati warga “negeri” TikTok. Sebaliknya, film indie dengan modal pas-pasan bisa meledak menjadi fenomena nasional hanya karena satu tren tarian atau sound yang viral.
Fenomena ini memaksa para produser dan pemasar film untuk memutar otak. Promosi TikTok bukan lagi sekadar pelengkap atau “bonus” dalam proposal pemasaran; ia telah bermetamorfosis menjadi tulang punggung utama. Pertanyaannya, mengapa aplikasi yang awalnya hanya berisi video joget-joget ini bisa memiliki kekuatan lebih besar daripada stasiun televisi dalam menggerakkan jutaan orang ke bioskop? Mari kita bedah strategi di balik layar yang mengubah cara kita memilih tontonan.
Runtuhnya Dominasi Iklan TV: Mahal dan Satu Arah
Pertama-tama, mari bicara jujur soal anggaran. Memasang iklan di televisi nasional membutuhkan dana yang tidak sedikit—bisa mencapai ratusan juta rupiah untuk beberapa kali tayang. Namun, masalah utamanya bukan hanya soal harga, tapi soal atensi. Generasi Z dan Milenial, yang merupakan demografi terbesar penonton bioskop, sudah jarang menonton TV konvensional. Kalaupun menonton, mata mereka tertuju pada ponsel saat iklan muncul.
Di sinilah marketing film tradisional kehilangan taringnya. Iklan TV bersifat pasif dan satu arah. Anda “memberi tahu” orang untuk menonton, tapi Anda tidak melibatkan mereka. Bandingkan dengan TikTok. Di sini, pemasaran bersifat partisipatif. Pengguna tidak hanya menonton iklan; mereka membuat iklan itu sendiri lewat stitch, duet, atau menggunakan sound film tersebut.
Secara data, tingkat keterlibatan (engagement rate) di TikTok jauh melampaui media tradisional. Ketika sebuah film menjadi tren di FYP (For You Page), hal itu bukan lagi sekadar iklan, melainkan percakapan budaya. Akibatnya, audiens merasa memiliki andil dalam kesuksesan film tersebut. Tentu saja, ini adalah sebuah ikatan emosional yang tidak bisa Anda beli dengan slot iklan TV manapun.
Kekuatan “Review Jujur” dan Reaksi Emosional
Pernahkah Anda melihat video viral dengan judul “JANGAN NONTON SENDIRIAN!” atau “Film ini bikin gue gak bisa tidur 3 hari”? Faktanya, video reaksi penonton “biasa” kini mendapatkan kepercayaan lebih tinggi daripada ulasan kritikus film bersertifikat. Ini adalah pergeseran psikologis yang masif dalam dunia promosi TikTok.
Audiens modern memiliki radar yang sangat sensitif terhadap kepalsuan. Iklan TV dengan polesan CGI canggih sering kali terasa berjarak. Namun, video amatir dari kamera HP buram yang menampilkan wajah sembab penonton baru keluar bioskop, memiliki validitas yang tak terbantahkan. Kita menyebut ini sebagai Social Proof atau bukti sosial.
Contoh nyata bisa kita lihat pada kesuksesan film horor lokal seperti KKN di Desa Penari atau Vina: Sebelum 7 Hari. Bukan trailer resmi yang memicu ledakan penonton, melainkan ribuan video reaksi di TikTok yang memvalidasi bahwa film tersebut “layak tonton”. Oleh karena itu, strategi marketing film yang cerdas kini melibatkan pengkondisian agar “review jujur” ini muncul secara organik—atau setidaknya terlihat organik—di awal masa tayang.
Tren “Sound” dan Dialog Ikonik
Di TikTok, telinga sama pentingnya dengan mata. Salah satu strategi paling ampuh dalam marketing film modern adalah mengeksploitasi aspek audio. Ingat bagaimana dialog “Kamu nanya?” atau potongan lagu soundtrack bisa terngiang-ngiang di kepala Anda berhari-hari?
Produser film kini sengaja merancang dialog-dialog yang meme-able atau quote-able agar pengguna bisa menjadikannya sound TikTok. Ketika ribuan kreator menggunakan potongan dialog film Anda untuk konten komedi atau curhat kehidupan sehari-hari mereka, itu adalah promosi gratis yang nilainya tak terhingga.
Cobalah pikirkan tentang film Barbie. Tim pemasaran mereka tidak hanya menjual visual merah muda, tetapi mereka juga menjual audio experience. Pengguna TikTok kemudian me-remix lagu-lagu populer tersebut sehingga menciptakan efek bola salju. Setiap kali pengguna mendengar lagu itu, alam bawah sadar mereka akan mengingatkan untuk membeli tiket bioskop.
BTS (Behind The Scenes): Memanusiakan Bintang Film
Zaman dulu, industri memperlakukan aktor film seperti dewa yang tak tersentuh. Mereka hanya muncul di wawancara formal dengan jawaban yang sudah humas atur. Strategi promosi TikTok menghancurkan tembok eksklusivitas ini.
Penonton TikTok menyukai konten Behind The Scenes (BTS) yang receh dan manusiawi. Video aktor yang sedang makan nasi bungkus di lokasi syuting, mereka yang salah mengucapkan dialog (bloopers), atau sekadar bercanda dengan kru, justru mendapatkan engagement yang gila-gilaan.
Mengapa? Karena hal itu membangun kedekatan (intimacy). Ketika audiens merasa “kenal” dengan para pemainnya secara personal, mereka cenderung ingin mendukung karya mereka. Strategi ini sangat efektif untuk film bergenre drama atau komedi romantis, di mana chemistry antar pemain menjadi nilai jual utama. Akun TikTok resmi film yang memposting konten BTS santai sering kali lebih cepat mendulang followers daripada akun yang hanya memposting trailer kaku.
Tantangan Kreator Lokal dan UGC (User Generated Content)
Kunci emas dari marketing film di TikTok adalah UGC atau User Generated Content. Ini adalah kondisi di mana penonton sukarela membuat konten tentang film Anda tanpa bayaran. Namun, memancing UGC tidaklah mudah.
Tim pemasaran harus menciptakan trigger. Pemicu ini bisa berupa dance challenge (seperti yang film M3GAN lakukan), filter wajah khusus, atau kuis interaktif. Strategi ini mengubah penonton pasif menjadi “duta promosi” aktif.
Bayangkan Anda adalah seorang produser. Daripada membayar satu influencer mahal, lebih baik Anda menciptakan tantangan yang membuat 10.000 pengguna biasa membuat video tentang film Anda. Algoritma TikTok tidak peduli siapa yang memposting; jika kontennya menarik, ia akan viral. Inilah demokratisasi promosi yang membuat iklan film di TV terlihat semakin kuno dan tidak efisien.
FOMO: Rasa Takut Ketinggalan Kereta
Terakhir, mesin penggerak terbesar di balik viralitas TikTok adalah FOMO (Fear Of Missing Out). Algoritma TikTok bekerja sangat cepat dalam menciptakan tren. Ketika sebuah film muncul di FYP seseorang sebanyak tiga kali dalam sehari, otak mereka akan mengirim sinyal: “Semua orang membicarakan ini, aku harus nonton sekarang juga supaya nyambung kalau ngobrol.”
Strategi marketing film yang sukses di TikTok adalah strategi yang mampu menciptakan urgensi ini di minggu pertama penayangan (opening week). Tim pemasaran akan membanjiri linimasa dengan potongan adegan yang memancing rasa penasaran (tanpa spoiler fatal), sehingga memicu diskusi liar di kolom komentar.
Perdebatan di kolom komentar—baik itu teori konspirasi plot atau debat tentang akting pemain—adalah bensin bagi algoritma. Semakin ramai orang berdebat, semakin luas jangkauan promosi film tersebut. Dinamika ini adalah sesuatu yang iklan baliho bisu di pinggir jalan tol tidak akan pernah bisa capai.
Kesimpulan
Lanskap marketing film telah berubah selamanya. Layar kaca televisi yang dulu menjadi raja, kini harus bertekuk lutut di hadapan layar vertikal ponsel pintar. Promosi TikTok menawarkan sesuatu yang media konvensional tidak bisa berikan: keaslian, partisipasi, dan kecepatan penyebaran yang mengerikan.
Bagi para pembuat film, ini adalah tantangan sekaligus peluang. Anda tidak perlu lagi budget promosi setinggi langit untuk sukses. Sebaliknya, yang Anda butuhkan adalah kreativitas untuk memicu percakapan dan kepekaan membaca tren. Jadi, jika Anda ingin jutaan orang menyaksikan film Anda, berhentilah berpikir seperti pembuat iklan TV tahun 90-an. Mulailah berpikir seperti kreator konten Gen Z. Siapkan kamera HP Anda, dan biarkan algoritma bekerja.